Mira selalu rajin menghampiri Ida dengan wajah segar terlihat dari
pinggiran kerudung diwajahnya yang masih basah. Mungkin sebelumnya dia hanya
wudlu atau mandi yang jelas semerbak wangi tercium dari rumah kontrakanku yang
memang tak ada jarak dengan rumah Ida. Wangi khas sabun mandi anak seumuran
mereka atau bedak aku tak tahu pasti yang jelas aku mengenal wangi itu khas
wangi anak-anak. Ida, anak pak Bambang pemilik rumah kontrakan yang ku tempati
sekarang adalah siswi kelas 5 MI. Hal itu kuketahui dari LKS bahasa Indonesia
yang tergeletak di dipan depan rumahnya.
Setiap menjelang sore sekitar pukul setengah tiga, dari kamarku
terdengar suara Mira memanggil-manggil nama Ida, aku mengerti berarti sudah
waktunya mereka sekolah. Tak jarang Mira hanya duduk diluar tanpa memanggil
ida. Dia hanya menunggu sambil bermain rumput dipekarangan rumah ida, mengambil
pecahan genting untuk bahan mainan, mengoret-oret tanah, entah menulis atau
melukis aku juga tidak tahu tapi kepolosan anak seusianya tampak jelas dari
tingkah lakunya yang seperti itu. Kadang ida keluar sebentar menghampiri mira
dengan hanya memakai kaos dan bawahan hijau seragam MI yang masih dikenakannya
untuk mengajak masuk.
Mereka selalu berangkat bersama di antar bu Ani istri pak Bambang ke
sekolah. Bukan sekolah formal dengan seragam yang ditentukan, saku dengan
bordiran lambang sekolah, tempelan di lengan yang menunjukkan tingkatan kelas,
bersabuk, berkaos kaki, bersepatu, serta penggunaanya ditentukan dengan jadwal,
namun ini adalah sekolah Diniyyah atau beberapa orang ada yang menyebutnya
sekolah Arab yang hanya wajib menggunakan pakaian sopan, berkerudung bagi yang
wanita dan berpeci bagi yang laki-laki. Tak harus menggunakan tas untuk wadah
buku beserta alat tulis lainnya, bahkan di daerahku Lasem kebanyakan
murid-murinya hanya menenteng kitab dan menyelipkan pulpen di pecinya setiap
berangkat sekolah Diniyyah. Sekolah Diniyyah berorientasi pada pembekalan
ajaran agama kepada anak umur antara TK sampai SMP bahkan ada yang SMA. Jadi
paginya mereka sekolah formal, sorenya sekolah Diniyyah.
bu Ani mengantar Mira dan Ida pergi sekolah Diniyyah dengan motor Grand
lamanya. suara kenalpotnya khas, cempreng tak sehalus motor keluaran sekarang,
bodi motornya pun sudah dipreteli, bisa dibilang tinggal rangkanya saja. Mira
dan ida selalu pamit kepada pak Bambang ketika beliau ada di rumah, meskipun Mira
bukan anak kandung pak Bambang namun Mira memang dekat sekali dengan
kelaurganya Ida. Mungkin karena terlalu dekatnya mira dengan ida, hampir setiap
hari kulihat Mira dan Ida bersama baik berangkat sekolah, pulang sekolah maupun
bermain. Kadang sampai Mira tidur siang di rumah Ida.
Aku melihat rutinitas itu mengingatkanku apa yang pernah kulakukan
dulu. Lasem memang banyak tersebar sekolah Diniyyah jadi sudah hal yang wajar
kalau diwaktu siang sampai sore jalanan desaku terlihat lengang. Dulu aku masih
ingat betul masuk sekolah Diniyyah ketika umurku masih 5 tahun. Ya, aku masih
kelas A di TK. Sekolah Diniyyahku pun bertempat sama seperti TK ku. Setiap
pukul setengah dua siang pasti aku sudah bersiap-siap, memakai celana, baju
koko, peci dan tas. Tas yang kupakai pun sama dengan tasku diwaktu paginya.
Sebelum berangkat aku meindahkan buku-buku pagiku dan kuganti dengan buku Iqro.
Aku dulu sekolah Diniyyah sampai kelas enam, berarti saat itu aku kelas 3 SMP.
Kegelisahanku muncul ketika aku yang sudah jarang pulang ke rumah
karena kuliah mendapati fakta bahwa anak-anak sekarang sudah disibukkan dengan
kegiatan selokah paginya. Ada yang pulang sampai setengah tiga, bahkan sampai
sore baru pulang karena ada kegiatan tambahan. Lalu waktu mereka untuk
mengenyam pendidikan agama darimana?
Kalau dihitung-hitung waktu untuk bermainku dulu masih ada walupun
aku sekolah Diniyyah, jadi paginya aku sekolah formal, siang sekolah Diniyyah,
sore aku masih bisa bermain. Namun sekarang, banyak orang tua beralasan bahwa
anak mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk belajar agama apalagi bermain.
Orang tua akan lebih bangga anaknya belajar di rumah baik belajar tentang ilmu
agama ataupun ilmu umum dibanding belajar di sekolah Diniyyah, disamping memang
waktunya yang kian padat untuk anak jaman sekarang, belajar di rumah dirasa
lebih simpel dan efektif.
sekolah Diniyyah hanya salah satu wadah untuk anak belajar agama.
Kalau begitu apakah dari sekolah formal saja sudah cukup? Aku ingat apa yang
dikatakan guru agama SMA ku. Saat itu beliau mengomentari tentang pemadatan jam
pelajaran untuk kelas 3 karena akan menghadapi ujian nasional. “Bagaimana
indonesia bisa maju kalau pengajaran agama saja masih dikesampingkan, lihatlah
posisi mata pelajaran agama yang ditaruh paling atas pada raport, dalam
kenyataannya tak sebanding dengan posisinya” ujar beliau dengan nada bercanda
namun aku tahu beliau serius mengucapkan hal demikian.
Aku acap kali rindu dengan suasana itu, suasana anak-anak sedang
semangat-semangatnya belajar agama melalui sekolah Diniyyah. Paling tidak nilai
positif yang didapat selain pastinya ada pengetahuan tambahan tentang ilmu
agama, mereka juga masih punya waktu untuk bersosial, bertemu dengan
teman-temannya yang dewasa ini sulit mencari waktu bagi anak untuk bersosial.
Ketika aku menulis ini pun aku sangat senang masih melihat Mira dan
Ida diantar ibunya ke sekolah Diniyyah.
AROGENJI. Semarang, 7 Februari 2014
Postingan yang bagus.
BalasHapusBersyukur dulu waktu kecil bisa mengenyam pendidikan Diniyyah mas Arogenji. Berbeda denganku, sampai sekarang pun aku tidak tahu bagaimana suasana belajar di Sekolah Diniyyah. Di kampungku malahan tidak ada mas. Sampai sekarang pun tak ada berita-berita mengenai pembangunan Sekolah Diniyyah, sama sekali.
Namun alhamdulillah mas, adikku sekarang lebih beruntung daripada aku. Ia ikut program pendidikan Diniyyah di kampung sebelah.
Pak Bambang dan bu Ani, apakah itu hanya sebuah kebetulan? :D
Kunjungi juga blog saya mas Arogenji di setitikpolkadot.blogspot.com
alhamdulillah. :)
BalasHapuswaduh, itukan cuma nama tokoh..hehe
oke2.