Sabtu, 07 Februari 2015

SEKOLAH UNTUK DUNIA & AKHIRAT

Mira selalu rajin menghampiri Ida dengan wajah segar terlihat dari pinggiran kerudung diwajahnya yang masih basah. Mungkin sebelumnya dia hanya wudlu atau mandi yang jelas semerbak wangi tercium dari rumah kontrakanku yang memang tak ada jarak dengan rumah Ida. Wangi khas sabun mandi anak seumuran mereka atau bedak aku tak tahu pasti yang jelas aku mengenal wangi itu khas wangi anak-anak. Ida, anak pak Bambang pemilik rumah kontrakan yang ku tempati sekarang adalah siswi kelas 5 MI. Hal itu kuketahui dari LKS bahasa Indonesia yang tergeletak di dipan depan rumahnya.
Setiap menjelang sore sekitar pukul setengah tiga, dari kamarku terdengar suara Mira memanggil-manggil nama Ida, aku mengerti berarti sudah waktunya mereka sekolah. Tak jarang Mira hanya duduk diluar tanpa memanggil ida. Dia hanya menunggu sambil bermain rumput dipekarangan rumah ida, mengambil pecahan genting untuk bahan mainan, mengoret-oret tanah, entah menulis atau melukis aku juga tidak tahu tapi kepolosan anak seusianya tampak jelas dari tingkah lakunya yang seperti itu. Kadang ida keluar sebentar menghampiri mira dengan hanya memakai kaos dan bawahan hijau seragam MI yang masih dikenakannya untuk mengajak masuk.
Mereka selalu berangkat bersama di antar bu Ani istri pak Bambang ke sekolah. Bukan sekolah formal dengan seragam yang ditentukan, saku dengan bordiran lambang sekolah, tempelan di lengan yang menunjukkan tingkatan kelas, bersabuk, berkaos kaki, bersepatu, serta penggunaanya ditentukan dengan jadwal, namun ini adalah sekolah Diniyyah atau beberapa orang ada yang menyebutnya sekolah Arab yang hanya wajib menggunakan pakaian sopan, berkerudung bagi yang wanita dan berpeci bagi yang laki-laki. Tak harus menggunakan tas untuk wadah buku beserta alat tulis lainnya, bahkan di daerahku Lasem kebanyakan murid-murinya hanya menenteng kitab dan menyelipkan pulpen di pecinya setiap berangkat sekolah Diniyyah. Sekolah Diniyyah berorientasi pada pembekalan ajaran agama kepada anak umur antara TK sampai SMP bahkan ada yang SMA. Jadi paginya mereka sekolah formal, sorenya sekolah Diniyyah.
bu Ani mengantar Mira dan Ida pergi sekolah Diniyyah dengan motor Grand lamanya. suara kenalpotnya khas, cempreng tak sehalus motor keluaran sekarang, bodi motornya pun sudah dipreteli, bisa dibilang tinggal rangkanya saja. Mira dan ida selalu pamit kepada pak Bambang ketika beliau ada di rumah, meskipun Mira bukan anak kandung pak Bambang namun Mira memang dekat sekali dengan kelaurganya Ida. Mungkin karena terlalu dekatnya mira dengan ida, hampir setiap hari kulihat Mira dan Ida bersama baik berangkat sekolah, pulang sekolah maupun bermain. Kadang sampai Mira tidur siang di rumah Ida.
Aku melihat rutinitas itu mengingatkanku apa yang pernah kulakukan dulu. Lasem memang banyak tersebar sekolah Diniyyah jadi sudah hal yang wajar kalau diwaktu siang sampai sore jalanan desaku terlihat lengang. Dulu aku masih ingat betul masuk sekolah Diniyyah ketika umurku masih 5 tahun. Ya, aku masih kelas A di TK. Sekolah Diniyyahku pun bertempat sama seperti TK ku. Setiap pukul setengah dua siang pasti aku sudah bersiap-siap, memakai celana, baju koko, peci dan tas. Tas yang kupakai pun sama dengan tasku diwaktu paginya. Sebelum berangkat aku meindahkan buku-buku pagiku dan kuganti dengan buku Iqro. Aku dulu sekolah Diniyyah sampai kelas enam, berarti saat itu aku kelas 3 SMP.
Kegelisahanku muncul ketika aku yang sudah jarang pulang ke rumah karena kuliah mendapati fakta bahwa anak-anak sekarang sudah disibukkan dengan kegiatan selokah paginya. Ada yang pulang sampai setengah tiga, bahkan sampai sore baru pulang karena ada kegiatan tambahan. Lalu waktu mereka untuk mengenyam pendidikan agama darimana?
Kalau dihitung-hitung waktu untuk bermainku dulu masih ada walupun aku sekolah Diniyyah, jadi paginya aku sekolah formal, siang sekolah Diniyyah, sore aku masih bisa bermain. Namun sekarang, banyak orang tua beralasan bahwa anak mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk belajar agama apalagi bermain. Orang tua akan lebih bangga anaknya belajar di rumah baik belajar tentang ilmu agama ataupun ilmu umum dibanding belajar di sekolah Diniyyah, disamping memang waktunya yang kian padat untuk anak jaman sekarang, belajar di rumah dirasa lebih simpel dan efektif.
sekolah Diniyyah hanya salah satu wadah untuk anak belajar agama. Kalau begitu apakah dari sekolah formal saja sudah cukup? Aku ingat apa yang dikatakan guru agama SMA ku. Saat itu beliau mengomentari tentang pemadatan jam pelajaran untuk kelas 3 karena akan menghadapi ujian nasional. “Bagaimana indonesia bisa maju kalau pengajaran agama saja masih dikesampingkan, lihatlah posisi mata pelajaran agama yang ditaruh paling atas pada raport, dalam kenyataannya tak sebanding dengan posisinya” ujar beliau dengan nada bercanda namun aku tahu beliau serius mengucapkan hal demikian.
Aku acap kali rindu dengan suasana itu, suasana anak-anak sedang semangat-semangatnya belajar agama melalui sekolah Diniyyah. Paling tidak nilai positif yang didapat selain pastinya ada pengetahuan tambahan tentang ilmu agama, mereka juga masih punya waktu untuk bersosial, bertemu dengan teman-temannya yang dewasa ini sulit mencari waktu bagi anak untuk bersosial.
Ketika aku menulis ini pun aku sangat senang masih melihat Mira dan Ida diantar ibunya ke sekolah Diniyyah.

 AROGENJI. Semarang, 7 Februari 2014

Kamis, 27 November 2014

SOLIDARITAS UNTUK REMBANG

lirik lagu Solidaritas untuk rembang #saverembang

 solidaritas untuk rembang

Solidari-solidaritas untuk rembang
Solidari-solidaritas untuk rembang
Solidari-solidaritas untuk rembang
Bersatu padu melawan penambangan
Panjang umur para pembangkang
Perjuangkan tanah di rembang
Perlawanan untuk penambang
Tetap bertahan dan berjuang
Mata air sumber kehidupan
Bukan air mata kesedihan
Save kendeng for live
Demi lahan penghidupan
Digusur dan menggusur
Demi lahan penghidupan
Di tenda-tenda penolakan
Bersatu padu semangat perlawanan
Pegunungan kendeng tolak penambangan
Lawan korporasi perusak lingkungan
Bahwa konservasi selalu diabaikan

Selasa, 25 November 2014

Selamat Hari Guru Nasonal

Saya tidak begitu mahir menulis. Begitu ingin menulis, saya akan menulis dengan atau tanpa rujukan atau dasar yang biasanya digunakan penulis-penulis lainya. Esai, artikel, makalah dan keluarganya pun kurang begitu saya kenali. Intinya saya hanya menulis ketika saya ingin menulis.
Kali ini saya akan menulis tentang guru. Mungkin karena terlalu banyak yang mengucapkan selamat hari guru di media sosial dan saya membaca tulisan-tulisan tentang guru di hari ini jadi saya ingin menulis tentang guru. Begitu pula ketika membuka halaman facebook saya ada pemberitahuan salah satu teman facebook saya bernama Himas Nur menandai saya dalam sebuah catatan. Isinya tulisan dia terkait konservasi budaya. Banyak sekali hingga beberapa paragraf. Yang saya pikirkan ketika membaca tulisannya, “kog bisa nulis sebanyak ini”. Memang benar, saya “gumun” melihat kawan-kawan saya yang mampu menulis sebanyak itu dan saya bisa menikmati tulisan itu ketika membacanya. Mungkin itu yang disebut tulisan bagus karena pembaca dapat menikmati tulisan tersebut ketika membacanya, ah, saya ingin dan semakin ingin sekali dapat menulis sebagus itu.
Guru menurut saya adalah pendidik. Seperti kebanyakan orang memakai kata “mendidik” untuk mendefinisikan profesi yang menurut saya hebat itu. ayah saya adalah guru bagi saya ketika kecil mendidik saya untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan baik. Tak banyak yang saya akan ceritakan tentang ayah saya bagaimana beliau mengajarkan Al-Qur’an kepada saya. Yang membuat saya tertarik menceritakan ayah saya ketika mendadi pendidik bagi saya adalah cara beliau yang terhitung keras. Saya ingat ketika itu pukul setengah tiga sore, saya masih bermain kelereng di rumahnya Ari- teman SD saya- RT 10 dan jarak dari rumah saya jauh sekali karena rumah saya di RT 02 atau bisa dibilang ujung desa ke ujung desa yang lainya. Pada waktu itu saya memang sudah kawatir karena biasanya pukul dua harus sudah berada dirumah, mandi, lalu belajar mengaji tapi karena saking asyiknya bermain kelereng saya berani menanggung resiko akan dimarahin sama ayah saya. Betul juga, begitu tiba di rumah, saya langsung diseret ke kamar mandi, disiram, dan disuruh mandi dengan beberapa pukulan ditubuh saya. Saya sampai menangis waktu itu karena beberapa pukulan tepat kearah dada dan wajah saya. Tak sampai disana, saya tetap disuruh belajar membaca Al-Qur’an walau keadaan menangis. Lalu dilain hari ketika mengaji diajar oleh ayah saya, saya ditampar dan diludahi karena tak bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Ibu saya memang tak sekeras ayah saya, namun beliau juga tidak dapat berbuat apa-apa ketika saya dan adek saya diajar oleh ayah saya karena kurang bisa belajar dengan baik membaca Al-Qur’an. Setelah beberapa tahun saya akhirnya tahu bahwa dulu ayah saya juga dibegitukan oleh kakek saya bahkan lebih keras lagi.
Ada lagi cerita sepupu saya yang bahkan sampai dipukul dengan sapu karena tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Lalu beberapa kejadian di pondok – karena rumah saya depan pondok- bahkan lebih keras lagi ketika para santri tidak disiplin dalam belajar mengaji kitab. Intinya saya banyak menjumpai berbagai ‘kekerasan’ pada saat proses belajar mengaji disekitar saya. Saya tidak tahu salah atau benar ketika saya menerima saja tidak sperti kejadian-kejadian di televisi banyak oknum guru yang dilaporkan ke pihak berwenang karena melakukan tindak kekerasan kepada siswanya dalam proses belajar mengajar. Pada waktu itu entah karena takut karena itu ayah saya, atau karakter yang dibangun dalam proses belajar membaca Al-Qur’an di lingkungan saya memang seperti itu sehingga saya mewajarkan atau masih lekat sekali penganggapan guru yang punya ‘kualat’ ketika siswa melawanya dan berharap mendapat ‘barokah ‘ ilmunya ketika kita patuh dan menghormatinya. Namun memang itu yang saya rasakan. Ayah saya juga banyak cerita ketika beliau di pondok pesantren begitu tunduk dengan apapun perintah yang dibebankan kepadanya. Perintah yang berkaitan dengan pembelajaran atau sama sekali tak ada hubungannya dengan pembelajaran misalnya disuruh membersihkan toilet rumah gurunya, atau mengurus kambing. Itu semua dilakukan dengan ikhlas berharap ‘barokah’ ilmu dari gurunya. Ketika saya membaca sebuah kitab - saya lupa judulnya apa- disitu diterangkan bahwa ilmu dari guru dapat berupa apa saja, bahkan ketika kamu menunggu guru yang terlambat beberapa jam untuk mengajar, mencatat semua yang dibicarakan guru, itu semua ada ilmu yang tersisip di dalamnya. Ketika itu semua difikir secara logika memang tidak masuk diakal, namun apakah semua harus dilogika? Saya pun begitu. Contohlah ketika ayah saya disuruh mengurus kambing gurunya, mau-maunya ayah saya disuruh seperti itu. Niat beliau di pondok pesantren bukan untuk jadi penggembala, tapi mencari ilmu malah disuruh melakukan hal-hal seperti itu. namun ayah saya tidak berfikir demikian. Seperti yang diajarkan oleh ayah saya, beliau meyakini bahwa keikhlasan melakukan perintah gurunya itu adalah bagian dari ilmu yang diajarkannya. Saya lantas berfikir, enak mungkin menjadi guru dapat menyuruh murid-muridnya melakukan sesuatu. Tapi khayalanan itu semua terpatahkan oleh cerita ayah saya bagaimana ketika gurunya menyuruh murid melakukan sesuatu tidak dengan semena-mena. Dengan perkataan tolong dan tanpa meninggalkan sisi-sisi kesopanan walupun itu dengan muridnya.
Dari cerita saya dan ayah saya bagaimana belajar membaca Al-Qur’an saja harus melalui prses yang bisa dibilang sangat keras bagi zaman sekarang namun sekapun saya bhkan ayah saya tak berfikiran bahwa itu keras. Semua diambil positifnya.
Berkaca dari itu, yang saya rasakan sekarang. Banyak guru yang tak pantas untuk dihormati bahkan saya harus milih-milih siapa guru yang pantas dan tidak saya hormati. Saya menulis demikian pun sudah menunjukkan bahwa saya tidak dapat bersikap seperti ayah saya yang menghormati gurunya sedemikian hormatnya, bahkan untuk ‘ngerasani’ gurunya pun ayah saya tak berani. Saya memberi kata ‘pantas’ berarti adapula kata ‘tidak pantas’. Memang benar, menurut saya selalam ini menjadi siswa sampai sekarang, sya tidak dapat menerapkan ajaran ayah saya bahwa semua guru itu harus dihormati. Sulit, apalagi ketika menjadi mahasiswa seperti sekarang selayaknya mahasiswa yang lainya, saya juga berfikir kritis terhadap apa yang ada disekitar saya bahkan terhadap guru saya sekalipun.
Lalu, bagaiman bisa prinsip itu tidak dapat digunakan pada zaman sekarang?
Apakah proses belajar yang seperti itu bisa diterapkan pada zaman sekarang?
Mungkin kedua pertanyaan itu yang ada dibenak saya sekarang. Ketika saya harus memilah-milah mana guru yang pantas saya hormati, mana guru yang tidak pantas saya hormati sudah tidak mnganut prinsip yang ayah saya gunakan dulu. Lalu dengan proses beljar yang seperti itu, saya saja bahkan tidak mengindahkan tugas yang diberikan oleh guru saya apalagi harus melakukan perintahnya semisal mengurus kambing, malah tidak akan pernah saya lakukan.
Ternyata ada beberapa aspek yang perlu dilihat dari seorang guru dan siswa. Ketika saya mencoba menghubungkan fenomena yang saya alami pada zaman sekarang, mungkin ketika ayah saya begitu patuh dan menghormati gurunya karena memang guru itu pantas untuk dihormati. Ayah saya belum menemukan saja guru yang mungkin tidak pantas baginya untuk dihormati. Lalu dengan cara berfikir siswa yang semakin berkembang menjadikan siswa pun dapat menilai baik dan buruknya proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Atau saya terlalu memaksakan pikiran dan mencari pembenaran atas apa yang saya alami di zaman sekarang karena memang saya terlalu naif untuk mengakui bahwa saya dapat berfikir seperti ini pun tak terlepas dari ilmu yang diajarkan oleh guru saya. Saya terlalu mencari efek langsung dari apa yang telah diajarkan oleh guru dan mengabaikan hal-hal yang secara tak saya sadari saya merasakan efeknya dan itu pastinya dari guru.
Saya yakin tidak semua orang seperti saya, masih banyak yang patuh dan menghormati guru tanpa syarat. Tanpa harus melihat pantas tidaknya, tanpa berfikir bahwa cara mengajar guru adalah harus sesuai dengan teori-teori yang diajarkan dalam buku.
Guru layaknya orang tua semoga masih dapat tercipta dewasa ini. Keramat yang ampuh dan ‘ngualati’ ketika tak menghormatinya.
Saya khawatir kalau nanti orang akan menganggap bahwa guru adalah yang memberi ilmu secara langsung. Kita bisa menghitung karena mendapat ilmu matematika dan itulah guru matematika. Kalau kita bisa sukses itu bukan dari guru karena tidak ada guru mata pelajaran sukses. Semoga tak sampai seperti itu.
Saya tidak tahu akan saya apakan tulisan ini. Tak ada dasar, teori, atau rujukan yang saya gunakan. Disebut tulisan apa pun saya tidak tahu karena saya hanya menulis apa yang saya ingin tulis.

Karena ini hari guru nasional saya menulis tentang guru, bisa jadi sebab akibat itu bisa digunakan dasar mengapa saya malam ini menulis. J

Jumat, 05 September 2014

Alam : Suara Perlawanan

Alam : Suara Perlawanan
Mengapa hanya kami yang menganggap bahwa alam adalah ibu kami?
Mengapa hanya kami yang menganggap alam adalah titipan Tuhan untuk kami?
Mengapa hanya kami yang menganggap bahwa air, tanah, adalah tubuh kami?
Mengapa hanya kami yang menganggap bahwa hanya kami yang tahu kami?
Demi tercipta konspirasi ekonomi diatas dalih pembangunan
Kalian definisikan kebenaran setiap yang kalian lakukan
Menghentak sujudkan nyawa dengan mahar buaian
Merangsek pintu-pintu menyuguhkan fatamorgana pembodohan
Hembusan aroma surga yang kalian ciptakan
Mengasah belati kalam bernegosiasi ala pemimpin bijak
Menundukkan setiap kepala yang tegak
Menghantar janji agar kami terjebak dan akhirnya tergeletak
Tapi kami tak tidur
Kami selalu bangun sampai berhala pembangunan yang kalian sembah rata dengan tanah
Membungkam setiap pernyataan bahwa alam adalah boneka
Disudut toko menunggu dimainkan dan akhirnya menjadi sampah
Kami takan berkhianat ketika kalian terlalu pagi berkhianat
Karena khalayak tak pernah salah memuja alam makhluk tuhan
Ditangan kanan kami menggenggam api
Membakar setiap kebenaran berbau konspirasi
Ditangan kiri kami membawa melati
Siap mengharumkan peti mati ambisi kapitalis yang menari
Kami akan selalu disini
Memberi sesuatu kepada alam yg terlalu banyak memberi
Atas nama hati nurani.
AROGENJI,  23 Juli 2014

Rabu, 09 Juli 2014

Sajak Media

Media ikut andil dalam penggiringan opini
Peran memberi informasi bergeser menjadi sebuah ajang jual beli
Ketika ini menjadi komoditas, jangan harap menjadi cerdas karena bisnis semakin cadas
Siapa terkenal, siapa tumbal, akan dibuat dengan kontrak nominal
Warna putih akan disulap sepekat aspal
Ingin terlihat baik, sobek kertas secarik, buat angka menarik, dan silakan tarik
Semiotika hingga persuasi diolah sebagai pemuas manusia berdasi
Mari berikhtiar, mari bersabar
Mari sadar akan penyeragaman bawah sadar
Mari bakar akar pembuat makar
dan Lepaskan otak dari sangkar media kaisar

Ashdaq Fillah. Semarang, 08 Juni 2014 


Kamis, 26 Juni 2014

Apakah Iya?

Calon Pemimpin. 50.000 x (n) + Janji = Modal
Pemimpin. ((5x12) x (gaji = lain-lain) - (50.000 x (n) + Janji) = Penghasilan Bersih
jika ((5x12) x gaji - modal > (50.000 x (n) + Janji) = ?
jika ((5x12) x gaji - modal < (50.000 x (n) + Janji) = ?
jika ((5x12) x gaji - modal = (50.000 x (n) + Janji) = ?

Aro Genji, 27/06/2014

aku

banyak banget hal yang pengen aku tulis tentang 'aku'. termasuk bagaimana aku menjalani kehidupanku sebagai 'aku'. namun kali ini aku pengen bercerita perihal bagaimana pemikiranku.
nggak banyak sih yang dapat aku ingat mengenai 'aku' saat sma, karena memang untuk hal-hal terkait pemikiran yang aku pikirkan dulu sewaktu sma membuat aku berkata 'oh, ternyata aku' saat aku menjadi mahasiswa. entah karena faktor lingkungan yang membuat aku bisa mengembangkan diri karena semakin banyak melihat beragamnya pikiran-pikiran, atau memang menjadi mahasiswa akhirnya aku bisa mengembangkan pikiranku, entahlah, yang pasti 'aku' saat ini semakin aku nikmati karena pemikiranku. aku sewaktu 'aku' SMA hanya bisa menyesal karena perkataan 'oh, ternyata aku' selalu saja menghantui bak bayangan di terangnya cahaya. ini terbentuk ketika aku mulai ikut berkecimpung dalam organisasi intra kampus. hal yang sejak SMA memang yang aku ingini. sebenarnya dengan pola pemikiranku yang semakin berkembang ini, aku ingin merubah apa yang dulu tak terfikirkan oleh 'aku' sebelum menjadi mahasiswa. memang benar, hal itu dapat dimaklumi sebagai ketidaktahuanku akan harusnya pemikiranku dapat berkembang sejak dulu, aku juga tak menyalahkan 'aku' pada saat itu, namun aku ingin memperbaiki pemikiranku pada saat itu entah dengan cara apapun. iya, terkadang dengan hal seperti ini, aku memaksakan 'aku' untuk segera bertindak melakukan apa yang aku sebut sebagai keterlambatan 'aku' berfikir bahwa 'aku' seharusnya bisa melakukannya sejak dahulu. aku semakin egois tanpa peduli bahwa 'aku' pun ternyata sudah berkembang. aku tak peduli bagaimana ketika aku melakukannya, 'aku' hanya akan membuat itu semakin terasa memaksa karena hal diluar pemikiranku pun berkembang. aku yang seperti 'aku' sekarang berkilah bahwa tidak semua hal mengetahui bahwa seharusnya 'hal' itu berkembang dan ini menjadi pembenaranku terhadap 'aku'.

4.44 27/06/2014
Aro Genji